Sabtu, 11 April 2015

Wisata Budaya Episode#1

Today was done!!!
Borobudur Temple, Vredeburg Fort, Bringharjo, and Malioboro.
Thanks all.

Sebulan sudah kurang lebih kami menjalani rutinitas PPG. Dan hari ini bagaikan oase di padang pasir. Wisata budaya yang memang telah diagendakan dari jauh-jauh hari. Seluruh peserta PPG SM-3T UNY turut serta dalam kegiatan menyenangkan ini. 
Rencana destinasi yang direncanakan sebelumnya adalah Borobudur, Kraton Yogyakarta, dan Malioboro. Namun karena keterbatasan waktu maka destinasi sedikit berubah, yaitu Borobudur, Benteng Vredeburg, dan Malioboro.
Kami berangkat dari kampus Wates sekitar pukul 07.30 WIB dan tiba di Borobudur Magelang pukul 09.00 WIB. Pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Jogja kembali yaitu menuju Benteng Vredeburg sekaligus Malioboro, karena benteng dan Malioboro letaknya tidak terlalu jauh. Kami berusaha melepas penat dan mencari hiburan selama wisata ini hingga akhirnya kami kembali sampai di kampus Wates sekitar pukul 20.00 WIB.
Inilah beberapa potret kegembiraan kami selama menikmati Wisata Budaya Episode #1 hari ini.

Borobudur.







Vredeburg Fort


  
Keseruan selama perjalanan.






Borobudur lagi



Nol Kilometer Yogyakarta





No Photo in Malioboro n Bringharjo

Sabtu, 04 April 2015

Malam Gerhana Bulan Total

Malam ini kami menyikapi terjadinya gerhana bulan total dengan melaksanakan sholat sunnah gerhana secara berjamaah.

Mereka yang Mendapat Antrian Lebih Awal



Jumat, 3 April 2015

Innalillahi wa innaillaihi rojiun...
Innalillahi wa innaillaihi rojiun...
Innalillahi wa innaillaihi rojiun...
Hari ini salah satu teman kami mahasiswa PPG SM-3T UNY telah berpulang kepada Sang Khalik. Saudara Feri Hariawan, mahasiswa PPG jurusan Geografi. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin..... Aamiin..... Aamiin..... Ya Rabbal Alamin.....

 "Ferry Haryawan"

Hari ini kami libur umum, sehingga tidak ada kegiatan akademik maupun non akademik yang harus kami jalani. Hari ini kami diperbolehkan melakukan kegiatan bebas, banyak diantara kami yang pergi ke Jogja kota, ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan di sekitar UNY kampus Wates, ada pula yang hanya berdiam di Asrama untuk beristirahat atau bermalas-malasan melepas penat pasca perkuliahan yang menyita pikiran, waktu dan energi.  

 "Mas Ferry Haryawan"

Saat kami semua sedang sibuk menjalankan aktivitas kami masing-masing, tiba-tiba group whatsapps PPG UNY ramai memperbincangkan mengenai kecelakaan yang dialami oleh salah satu teman kami yang saat itu belum diketahui siapa gerangan, dan yang kini telah diketahui ternyata adalah mas Ferry. Dalam group whatsapps yang kami baca terlihat keadaan sangat gawat karena telah ada yang menyebutkan mengenai rumah sakit Dr Sardjito, ada yang menyebut ruang forensik, ada yang menyebut bersedia menyumbangkan darah apabila dibutuhkan, dan lain sebagainya. Sebagian teman-teman yang saat itu berada di Jogja kota langsung merapat ke RS Dr Sardjito, dan sebagian dari kami yang berada di Wates masih menunggu kabar selanjutnya dari Pak Lurah Asrama ataupun Bu Lurah, dan yang lainnya melalui pantauan group whatsapps. Tak lama berselang, bermunculanlah kata-kata duka Innalillahi wa innailaihi rojiun dari teman-teman. Kami semua kaget seperti tidak dapat mempercayainya. 









Dan setelah melihat dan mendengar kabar dari berbagai sumber, maka kabar kepergian teman kami memang benar adanya. 

"Telah terjadi kecelakaan pada hari Jumat tanggal 3 April 2015 sekitar pukul 07.45 WIB, TKP Jalan Yogya Wates Km 13 Tonalan Argosari Sedayu bantul. Kecelakaan antara sepeda motor Honda Beat nopol B 3339 KQE identitas: Ferry Haryawan, 27 tahun, laki-laki, mahasiswa, islam, alamat Margahayu Jaya rt 04/19 Margahayu Bekasi Timur Metro Jaya. Identitas pengemudi bus mitsubishi: Sujono, 57 tahun, laki-laki, pengemudi, islam, alamat Bentar Kulon Banguncipto  rt 04/02 Sentolo Kulon Progo. Kronologis kejadian kecelakaan lalu lintas berawal saat bus mitsubishi nopol AB 7102 E melaju dengan kecepatan sekitar 40km/jam, sesampai di TKP ada 2 sepeda motor yang melaju sama dari arah timur ke barat berusaha mendahului dari samping kiri bus, kedua sepeda motor tersebut bersenggolan akibatnya pengendara honda beat nopol B 3339 KQE hilang keseimbangan dan oleng ke kanan dan tepat terjatuh di depan bus yang berjarak sekitar 1 meter, bus sudah berusaha mengerem namun kecelakaan tidak dapat terhindarkan. Akibatnya pengendara Honda Beat mengalami luka patah tulang tangan kanan dan kiri, serta patah tulang leher, pengendara honda beat meninggal di tkp, korban sudah di bawa ke RS Dr Sardjito Yogyakarta."

Begitulah berita yang kami dapat saat itu. Dan sore itu kami langsung berkoordinasi untuk melakukan takziah di rumah duka di Purworejo, yaitu rumah Pakde mas Ferry. Jaraknya sekitar 1 jam dari UNY Kampus Wates. Pukul 17.00 WIB kami berangkat dari Wates dengan 2 bus dan beberapa ada yang naik mobil pribadi atau motor pribadi, ada pula yang berangkat dari RS Dr sardjito. Sekitar pukul 18.30 kami sampai di rumah duka, dan beberapa menit kemudian ambulan mobil jenazah juga tiba di rumah duka. Sekitar pukul 20.00 WIB keluarga dari bekasipun tiba. Ibu dari mas ferry langsung lemas tak berdaya bahkan sebelum melihat peti jenazah anaknya.



Baru saja beberapa minggu yang lalu salah satu teman kami mahasiswa PPG SM-3T UNESA, yaitu saudara Syahru Romadhon dari jurusan Matematika juga berpulang kepada Sang Khalik
Mohamad Isnaeni 

Nic n Mar vs One Line Love

Finishhhhh........
Drama singkat Nic n Mar akhirnya selesai di episode ke-7. Mini drama produksi LINE ini sangat menarik, sangat romantis, sangat berkesan, dannnn........ sangat menginspirasi penikmatnya. Tidak terlihat dibuat-buat seperti drama Indonesia kebanyakan. Salut untuk para kru produksinya.
 "Nic n Mar Episode 3 Episode Favorit Saya"

Selain mini drama Nic n Mar, LINE juga memproduksi mini drama korea yang dibintangi oleh Lee Min Hoo dengan aktris yang tak saya kenal dengan judul One Line Love. Ketika menonton episode pedana One Line Love, rasa yang pertama muncul adalah rasa muak yang lebih sering saya rasakan ketika menonton drama Indonesia. Cukup menonton episode perdananya saja, saya sudah tak ingin melanjutkan untuk episode-episode berikutnya.

"One Line Love Episode 1"

Baru kali ini saya merasakan hal yang berbeda ketika menonton drama Indonesia dan drama Korea. Semoga saja LINE terus memproduksi drama-drama berkualitas seperti Nic n Mar, dengan soundtract yang bagus pula. Terima kasih LINE telah memberikan hiburan yang istimewa ^_^.

Rabu, 01 April 2015

Latihan Isyarat Kedua

Bimbang by Melly Goeslaw

Lagu ini tak berarti apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa. Lagu ini sebagai latihan kedua karena temponya yang lambat, sehingga memudahkan untuk dipelajari, dihafalkan, dan dipraktekkan. Video berikut tidak saya sarankan untuk anda tonton, karena hanya akan membuang waktu anda saja. Jadi saya mohon untuk tidak meluangkan waktu anda sedetikpun.

 

Franz Kafka

Sekali lagi, tokoh ini adalah tokoh gila selain Friedrich Nietzsche. Meskipun tak segila Friedrich Nietzsche, Franz Kafka cukup fenomenal dan sayang untuk tak dikenal. Dari mana saya mengetahui nama Kafka? Dari film pendek "Nic and Mar" yang diproduksi oleh LINE. Pada salah satu episodenya, Nic dan Mar membicarakan museum Kafka yang ada di Praha, Austria-Hungaria (sekarang Republik Ceko). Konon katanya kota Praha adalah kota yang dapat menandingi keromantisan kota Paris. Paris... Kapan saya akan ke sana ya?? Semoga saja Tuhan mengizinkan dan memberikan kesempatan. Aamiin.....
Berikut ulasan tentang Kafka dari berbagai sumber.

Franz Kafka
Kafka1906.jpg
Foto Franz Kafka pada tahun 1906
Lahir 3 Juli 1883
Praha, Austria-Hungaria (sekarang Republik Ceko)
Meninggal 3 Juni 1924
Wina, Austria
Pekerjaan Novelis, cerpenis, pegawai asuransi, manajer pabrik,
Kewarganegaraan Ashkenazi Yahudi-Bohemia (Austria-Hungaria)
Angkatan modernisme, eksistentialisme, Surealisme, pelopor dasar dari realisme magis



Tanda tangan

Franz Kafka (IPA: [ˈfranʦ ˈkafka]) (3 Juli 18833 Juni 1924) adalah seorang novelis dan cerpenis Bahasa Jerman yang berpengaruh dari abad 20. Penulisan karya-karyanya yang unik telah dianggap memberi pengaruh besar pada sastra barat.[1]
Karyanya yang paling dikenal antara lain Die Verwandlung (Metamorfosis) dan novelnya yang belum diselesaikan Das Schloß (Kastil).

Sumber : Wikipedia

Tak ada sastrawan yang seperti Franz Kafka. Dianggap begitu rumit, begitu gelap, begitu tidak karu-karuan. Lahir 3 Juli 1883, meninggal sebulan sebelum berusia 41 tahun, pada 3 Juni 1924.
Franz Kafka
Franz Kafka tak pernah meramalkan sukses besarnya sebagai sastrawan. Namun teknik penulisannya yang begitu otentik dan orisinal, merupakan pilihan sadar dan sikap dasarnya dalam menulis. Dalam sebuah suratnya kepada Oskar Lotak, 27 Januari 1904, ia mengatakan, "Suatu buku haruslah bagai menikam atau mencederai pembacanya. Katanya, kalau buku itu tidak membangunkan kita dengan suatu tonjokan di kepala, untuk apa kita membacanya?"
Ia mengatakan, kalau perlu buku macam itu harus kita tulis sendiri. Lalu katanya pula, apa yang kita butuhkan adalah buku yang memberi dampak pada kita bagaikan bencana yang menciptakan duka cita yang mendalam, ibarat kematian seseorang yang kita cintai lebih dari diri kita sendiri, seumpama dibuang jauh ke rimba raya terkucilkan dari siapapun, seperti suatu bunuh diri. Buku haruslah merupakan sebuah kapak yang menghancurkan samudera yang membeku dalam diri kita
Betapa kuat kalimat-kalimat itu. Begitu kokoh. Dan begitu konsisten kredo kesastrawanannya itu diwujudkan dalam karya-karyanya. Yang gelap, dengan kata-kata yang berantakan, kalimat-kalimat panjang yang saling berhimpitan, membangun suatu arsitektur bahasa tersendiri, menciptakan suasana gelap, tertekan, terasing, getir, sendirian terkucil.
Sampul 'Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan'

Tetapi siapakah Franz Kafka, si peracau itu? Sebuah buku baru diterbitkan menyambut ulang tahun Kafka ke 125. Judulnya, 'Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan'. Pengarangnya, Reiner Stach mengatakan, dengan buku itu disusun berdasarkan hidup Franz Kafka dari 1916 hingga kematiannya 1924.
"Saya ingin menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa politik yang disaksikan Kafka khususnya selama Perang Dunia, bukan sekadar latar bagi hidupnya semata. Melainkan, dia juga sangat terlibat di dalamnya. Saat itu ia dipaksa untuk membeli surat obligasi dana perang. Akibatnya seluruh simpanannya, yang sebenarnya disimpan supaya nanti bisa berhenti dari kerjanya di perusahaan asuransi, dan hanya menulis sepanjang hidupnya itu habis. Bisa dibilang dicurilah, begitu."
Terlepas dari kepribadiannya yang nyentrik, Franz Kafka adalah pekerja keras. Ia sungguh-sungguh ketika menjadi pekerja di perusahaan asurani untuk menyambung hidupnya, juga ketika pindah ke perusahaan lain. Namun ia juga mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menulis.
'Die Verwandlung' dalam Bahasa Farsi

"Ketika Gregor Semsa terbangun suatu pagi dari suatu mimpi yang kacau, di atas tempat tidurnya itu ia mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa." Begitulah kalimat pembuka Metamorfosa, atau dalam judul aslinya, Verwandlung, salah satu karya Franz Kafka yang legendaris.
Ini barangkali kalimat pembuka paling terkenal dalam dunia sastra. Kalimat awal yang tak ada tandingannya. Novel itu sendiri adalah karya yang taka da tandingannya pula. Sebuah karya yang mengguncangkan nilai dan estetika. Metamorfosis mengubah sepenuhnya pandangan dunia mengenai sastra, dan pandangan mengenai dunia sastra. Bahwa suatu karya sastra bisa ditulis dengan cara yang sepenuhnya berbeda.
Metamorfosis boleh dikata merupakan satu-satunya novel Franz Kafka yang tuntas. Tidak dalam pengertian tamat seperti novel pada umumnya. Namun setidaknya berakhir pada ujung yang boleh dikata konklusif. Sedangkan karya-karya monumental lain, seperti Amerika, Manusia yang Tersesat, serta Peradilan, alias The Trial alias Proses, kastil alias Schloss, merupakan karya yang tidak selesai, yang terputus di tengah jalan. Tetapi toh, karya-karya tidak beres itu begitu mempengaruhi dunia. Mengapa karya-karyanya tidak selesai? Reiner Stach menjelaskan:
Tempat kerja Kafka di Praha

"Setiap malam sesudah pukul 5 sore ia harus ke kantor. Ia juga musti masuk kantor setiap hari Sabtu. Ia jadi kehabisan waktu. Ia berusaha mengabaikannya. Tapi akibatnya ia justru kurang tidur. Itu alasan kenapa ia tidak berhasil menyelesaikan naskah berjudul "Proses", atau di dunia internsional dikenal sebagai The Trial, Pengadilan. Karena tugas di kantor dan keharusan menulis membuat beban hidupnya jadi berlipat ganda. Ia jadi begitu letih."
Manusia letih ini juga selalu gelisah. Tidak tenang. Serba tidak nyaman, tidak aman. Serba cemas, serba kuatir. Namun katanya, "Ketakutanku adalah inti jiwaku, dan bisa jadi bagian terbaik dari diriku."
Semua kepribadiannya, kecenderungan hidupnya, pandangannya, kegelisahannya, kecanggungannya, kesepiannya, kecemasannya, detil-detil kecil dari kesehariannya, seakan tercermin kuat, atau terwujudkan secara khas dalam karya-karyanya. Dalam Metamorfosis ia adalah Gregor Samsa yang terbangun di pagi hari sebagai seekor serangga raksasa, dalam Kastil sosok-sosok berseliweran, dan berakhir dengan kalimat yang tak selesai, dalam Pengadilan, seorang lelaki tiada guntur tiada angin ditangkap.
Franz Kafka adalah manusia dengan minoritas lipat tiga di Ceko. Ia seorang Yahudi, seorang penyendiri, dan seorang pengguna bahasa Jerman. Kafka memang lahir dari sebuah keluarga Yahudi makmur di sebuah kawasan berbahasa Jerman di Praha. Seluruh pendidikannya dijalani dalam bahasa Jerman. Karenanya, kendati ia menguasai juga bahasa Ceko dan kemudian Prancis, ia menulis dalam bahasa Jerman. Bahasa yang sangat rumit, yang seakan menjadi alat yang lebih sempurna lagi bagi kerumitan kepribadian Kafka.
Keluarganya, masa kecilnya, pendidikannya, kendati elitis, jauh dari susana yang membahagiakan Franz Kafka. Dalam biografi yang disunting sahabatnya, Max Brod, ia menulis,bahwa ia bisa membuktikan setiap saat bahwa pendidikan yang dialaminya diupayakan untuk menciptakan kepribadiannya yang berbeda, yang bukan dirinya sendiri. Ia menuntut agar para pendidiknya untuk mengarahkannya sesuai kepribadian sebenarnya. Namun katanya, karena mereka tak mampu memenuhinya, ia melontarkan kecaman saja, olok-olok yang bergema nyaring di menembus dunia.
Franz Kafka dan tunangannya Felice Bauer tahun 1917

Franz Kafka berangan-angan pindah ke Berlin, Jerman, dengan harapan bisa terbebas dari lingkungan keluarga dan masa kecilnya, hidup sebagai penulis sepenuhnya bersama tunangannya Felice Bauer yang tinggal di Berlin. Namun perang dunia pertama meletus, dan ia tak leluasa bepergian. Dan akhirnya hubungan mereka yang terbina selama 5 tahun, putus pada tahun 1917. Tak lama kemudian Kafka terserang Tuberculosis, TBC. Berbarengan dengan makin parahnya berbagai masalah yang bersumber pada kejiwaannya, Seperti paranoia, kecemasan, psikosomatik. Dan Kafkapun mengutuk. Katanya, paru-parunya dan otaknya diam-diam berkomplot. Di luar itu, Kafka memang selalu tak nyaman dengan orang lain. Salah satunya, digambarkan Reiner Stach yang baru saja menulis buku tentang Kafka:
"Dia punya kebiasaan tetap yang khas yang tampak ganjil. Ia tak bisa mengubahnya. Dan ia tahu itu bisa jadi bahan tertawaan. Sebetulnya tak ada kebiasaan ganjilnya yang betul-betul membuat orang lain tak bisa bergaul dengannya. Namun Kafka berpikir, itu akan membuat orang lain menjauhinya.."
Patung Kafka di Praha

Franz Kafka jatuh cinta lagi di tahun 1921 kepada Milena Jesenka, seorang wartawati Ceko. Dalam sebuah suratnya Kafka mengatakan, "Dalam cinta ini engkau bagaikan sebilah pisau, yang dengannya aku jelajahi diriku sendiri." Namun ia menganggap "persetubuhan adalah suatu hukuman atas kebahagiaan sepasang kekasih".
Tetapi dua tahun kemudian ia pindah ke Berlin dan hidup dengan seorang guru TK bernama Dora Diamant, yang memperkenalkannya lebih dalam dengan keyahudian. Kafka kemudian tertarik pada spiritualitas dan kebudayaaan lama Yahudi. Kendati Kafka tak pernah benar-benar menjadi seorang Yahudi religius. Kafka sempat juga terpengaruh oleh sejumlah kawan-kawannya yang Zionis. Sampai berencana untuk ikut pindah ke kawasan Palestina yang saat itu berada dalam mandat Inggris dan Israel belum ada. Namun penyakit TBC mengagaglkannya. Ia meninggal 3 Juni 1924.
Beberapa saat menjelang kematiannya, ia berwasiat kepada sahabatnnya, Max Brod dan teman hidupnya, Dora Diamant, agar membakar dan memusnahkan seluruh karyanya. Agar, katanya, "Tidak akan pernah ada bukti bahwa saya seorang penulis." Namun wasiatnya tidak diindahkan. Sejumlah buku catatannya diselamatkan, kendati tidak semuanya. Dan lama sesudah kematian, diterbitkan, kendati banyak di antaranya yang diragukan kebenaran susunannya. Karena banyak halaman lepas yang tidak diberi nomor halaman. Sehingga harus disusun ulang berdasarkan tafsieran Max Brod.
Museum Franz Kafka di Praha

Yang unik, ketika Nazi Hitler berkuasa di Jerman belasan tahun kemudian, dan merenggut nyawa tiga adik perempuannya di kamp konsentrasi, Kafka memunculkan masalah baru. Para penguasa Nazi melakukan penyitaan terhadap karya-karyanya, dan memusnahkannya sebagian. Sesudah Zazi kalah dalam Perang Dunia kedua, seluruh dunia mengerahkan sebuah operasi besar untuk menelusuri karya-karya Franz Kafka. Karya-karya gelap, yang sekali lagi, penuh gambaran berantakan, kalimat yang bagai meracau, struktur yang bertumpuk. Sebuah c ara berkesusastraan yang menggemparakn, bahakn boleh dikata mengubah kesusastraan. Reiner Stach, penulis biografi Franz Kafka terakhir, menggambarkannya:

"Saya selalu katakan, di kepala Kafka bagaikan ada bioskop yang selalu memutar film penuh khayalan. Jadi mungkin seperti orang yang di bawah pengaruh obat bius. Atau justru seperti orang yang sedang mengalami masa puber."

Sumber : www.dw.de

Sabtu, 14 Maret 2015

Puisi Gie

Saya mengenalnya saat SMA kelas XII tahun 2007-2008 melalui filmnya. Setelah menyaksikan filmnya, saya berkesempatan membaca bukunya. Itulah awal mula mengaguminya. 
 
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Berikut adalah puisi-puisinya:
MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
====================================================
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969
====================================================
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973
====================================================
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)
Akhir perjalanan Soe:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.
sumber: berbagai sumber

Selasa, 10 Maret 2015

Jelang Eksekusi, Myuran Kembali Melukis Wajah Jokowi

Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 04 Maret 2015 12:01 WIB 
Sumber : http://harianterbit.com/hanterdaerah/read/2015/03/04/21189/20/20/Jelang-Eksekusi-Myuran-Kembali-Melukis-Wajah-Jokowi
  Lukisan Wajah Jokowi
Jakarta, HanTer - Myuran Sukumaran, terpidana mati kasus narkoba dikenal dengan julukan duo Bali Nine selama di LP Krobokan banyak menghabiskan waktunya dengan melukis.

Pengacara Myuran Sukumaran, Todung Mulya Lubus mengatakan selama di LP Krobokan klien mengisi hari-harinya dengan melukis.

Sejumlah tokoh, kata Todung sudah dilukis warga Australia keturunan India tersebut, termasuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

Kata Todung, Myuran saat ini tengah dalam proses melukis sosok Presiden ke-7 RI. Sementara gambar Prasetyo sudah rampung ditorehkannya.

"Saat saya bertemu Sukumaran di Bali. Ia sangat suka melukis. Dia sudah melukis gambar dari (jaksa agung) Prasetyo," kata Todung.

"Dia juga dalam proses menggambar Presiden Jokowi. Lukisan-lukisannya bagus," imbuh dia.

(Ris)

Minta Pengampunan, Myuran Sukumaran Lukis Potret Presiden Jokowi

Selasa, 10/03/2015 20:03 WIB
Sumber : Australia Plus ABC - detikNews


Jakarta - Terpidana mati kasus Bali Nine asal Australia, Myuran Sukumaran, telah mengajukan pengampunan secara pribadi kepada Presiden Joko Widodo, dengan melukis potret Presiden Indonesia itu dan menandatanganinya dengan kata-kata ‘manusia bisa berubah'.

Sukumaran mengomandani studio seni untuk sesama tahanan selama ia mendekam di penjara Kerobokan, tempat di mana ia dibimbing oleh seniman perang Ben Quilty, sejak tahun 2012.

Baru-baru ini, Sukumaran dianugerahi gelar sarjana kehormatan dalam bidang seni rupa oleh Universitas Curtin.



Ia melukis potret Presiden Jokowi di penjara Kerobokan pada akhir Januari, dalam beberapa pekan terakhir sebelum dipindahkan ke pulau Nusakambangan.

Sukumaran dan sesama pemimpin geng Bali Nine, Andrew Chan, telah menghabiskan seminggu di pulau itu, tempat di mana mereka menunggu hasil peninjauan terhadap eksekusi mati atas kasus penyelundupan heroin.

Konsul Jenderal Australia di Bali, Majell Hind, hari ini (10/3) mengunjungi para terpidana mati untuk memeriksa kondisi mereka.

Itu adalah perjalanan ketiganya ke Nusakambangan sejak Chan dan Sukumaran dipindahkan dari Bali, Selasa (3/3) lalu.

Kedua tahanan dilaporkan dalam kondisi baik.

Keluarga Sukumaran dan Chan mengunjungi mereka untuk pertama kalinya di pulau itu kemarin (9/3),dan akan melakukannya lagi esok (11/3).

Chan dan Sukumaran berada di antara 10 terpidana mati yang tengah menunggu kepastian waktu eksekusi mereka.

Beberapa dari mereka masih mengupayakan banding secara hukum, yang sedang berlangsung di pengadilan Indonesia, dan meskipun Jaksa Agung mengatakan persiapan eksekusi hampir siap, eksekusi sendiri tak akan terjadi hingga seluruh proses hukum terpidana selesai.

TUHAN SUDAH MATI: Sebuah Telaah Pemikiran Nietzsche Mengenai Eksistensi Tuhan


Sumber : https://godforsakenarab.wordpress.com/2013/03/10/tuhan-sudah-mati-sebuah-telaah-pemikiran-nietzsche-mengenai-eksistensi-tuhan/

  1. 1.      Pengantar
Revolusi industri di Inggris dan kemudian revolusi Prancis menumbuhkan cara pandang baru manusia tentang Tuhan, dunia, manusia sendiri maupun semua yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Filsafat juga hadir secara baru. Descartes mendahului dengan cogito ergo sum-nya yang kemudian memunculkan filsafat modern. Setelah Descartes, muncul lagi seorang nabi di dunia filsafat yang meramalkan runtuhnya hegemoni kekristenan di Eropa. Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche.
Friedrich Wilhelm Nietzsche menjadi tokoh utama munculnya pembaruan dari filsafat modern menuju filsafat post-modern. Sumbangannya di dunia filsafat tidak perlu diragukan lagi. Mungkin, tidak ada filsuf yang lebih terkenal daripada Nietzsche. Pemikirannya yang radikal dan kontroversial  manjadi perbincangan hangat yang tidak ada habisnya.
Salah satu pemikirannya yang mengubah cara pandang para pemikir filsafat adalah konsep Tuhan sudah mati. Pemikiran tersebut merupakan hal yang baru karena menjadi pendobrak konsep lama yang didominasi oleh cara berpikir Kristen. Para ahli menyebut Nietzsche sebagai seorang penganut nihilisme. Nihilisme merupakan pendirian atau paham yang berporos pada ‘tiada apa-apa pun’.[1] Seperti kaum nihilis yang lain, Nietzsche berpandangan bahwa diperlukan adanya sebuah “kehancuran” total untuk suatu perbaikan.
  1. 2.      Latar Belakang pemikiran Nietzsche
Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di Rocken, wilayah Sachsen pada tanggal 15 Oktober 1844. Dia lahir dari sebuah keluarga Protestan Lutheran yang saleh.  Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran yang meninggal pada saat dia berumur 5 tahun. Dan dia sendiri diproyeksikan mengikuti jejak ayah, paman dan kakeknya untuk menjadi pendeta.
Pada tahun 1854, Nietzsche masuk Gymnasium di kota Naumburg, namun empat tahun kmudian ibunya memintanya belajar di sebuah sekolah asrama Lutheran di kota Pforta. Di sanalah dia membaca karya banyak sastrawan dan pemikir besar. Selain itu dia juga tertarik dengan kebudayaan Yunani Kuno.
Dia meneruskan studinya di Universitas Bonn pada tahun 1864 bersama teman-temannya dari Pforta. Tahun 1965, dia belajar filologi di Leipzig. Studinya tersebut kemudian terputus ketika pada tahun 1867, dia diminta untuk menunaikan wajib militer. Lalu, karena jatuh dari kudanya dan terluka, dia kembali lagi ke Leipzig dan belajar lagi. Pada inilah dia berteman dengan Richard Wagner, komponis Jerman yang nantinya akan berpengaruh banyak pada kehidupan Nietzsche. Persahabatan itulah yang kemudian berpengaruh pada periode pertama riwayat intelektualnya. Pada periode itu, bersama temannya dia berkutat pada pemikiran mengenai kelahiran kembali seni Yunani Kuno.
Sekitar tahun 1869, dia menjadi dosen di Universitas Basel. Waktu itu usianya baru 24 tahun dan belum meraih gelar doktor. Dia memilih untuk menjadi seorang ateis. Di masa itu jugalah hubungan dengan Wagner semakin memburuk. Dia merasa diperalat demi kemahsyuran Wagner.[2] Terlebih karena Wagner kemudian menjadi Kristen. Kemudian dimulailah periode intelektual Nietzsche yang kedua. Periode ini menghasilkan beberapa karya.
Yang disebut periode ketiga adalah di mana ketika Nietzsche menemukan kemandiriannya dalam berfilsafat. Selama periode inilah, dia sakit-sakitan dan kesepian. Dia mengalami ketegangan mental. Nietzsche terobsesi untuk selalu menyanjung dirinya. Pada bulan Januari 1889, Nietzsche menjadi gila. Dia banyak mengaku sebagai orang-orang terkenal dari Ferdinand De Lesseps, arsitek terusan Suez, sampai bahkan mengaku sebagai “yang tersalib”. Dia meninggal dunia di dalam kesepiannya di Weimar pada tanggal 25 Agustus 1900 karena Pneumonia.
  1. 3.      Nietzsche Sang Pembunuh Tuhan
Nietzsche adalah filsuf unik yang berpikir secara unik dan menyampaikannya secara unik pula. Keunikannyalah yang membuat dia menjadi begitu istimewa bagi dunia filsafat. Pemikirannya tak pernah dapat dilepaskan dari latar belakang kehidupannya. Bahkan, tanpa ragu-ragu dia banyak bercerita tentang kehidupannya di dalam tulisannya. Selain itu, cara penyampaian filsafatnya yang menggunakan teknik sastra menjadi hal yang baru di dalam dunia filsafat yang selama ini selalu memakai obyektivitas dan kebakuann bahasa sebagai hal yang utama. Bagi Nietzsche kebenaran yang bersifat jamak hanya bisa tersampaikan lewat sastra. Artinya, penafsiran akan suatu kebenaran akan selalu plural tidak pernah tunggal.
pemikiran Nietzsche mengenai kematian Tuhan sendiri terdapat pada sebagian karya-karyanya. Salah satu tulisannya yang terkenal mengenai hal itu terdapat pada bukunya, the  gay science (ilmu kebahagiaan). Di dalam ceritanya, seseorang yang gila datang ke sebuah kerumunan dan berteriak-teriak mengenai kematian Tuhan.
Tidakkah kamu telah mendengar seorang gila yang menyalakan lentera di pagi hari yang cerah, berlari menuju tempat kerumunan, dan terus-menerus berteriak: “ Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” – Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan berdiri di sekelilingnya kemudian, dia mengundang gelak tawa. Apakah dia orang yang hilang? Tanya seseorang. Apakah dia telah tersesat seperti anak kecil? Tanya yang lainnya. Atau dia sedang bersembunyi? Apakah dia takut pada kita? Apakah dia orang yang baru saja mengadakan pelayaran? Seorang perantau? — Maka mereka saling bertanya sinis dan tertawa.
            Orang gila itu melompat ke tengah kerumunan dan menatap mereka dengan mata tajam. “Ke mana Tuhan?” dia berteriak: “Aku akan menceritakan pada kalian, Kita telah MembunhNya — Kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya… Tuhan sudah mati. Tuhan terus mati…”
            … “aku telah datang terlalu awal.” Dia kemudian mengatakan: “waktuku belum datang. Peristiwa besar ini masuh terus berjalan, masih berkeliaran; ini belum mencapai telinga-teling manusia…”
            Telah diceritakan lebih lanjut pada hari yang sama orang gila itu memaksa masuk ke dalam beberapa gereja dan di sana menyanyikan requiem aeternam Deo….[3]
Amat penting untuk disampaikan di sini tentang pemikiran dasar Nietzsche mengenai Tuhan. Nietzsche memahami Tuhan seperti mimpi. Ketika kita tidur dan bermimpi, kita seperti berada di dalam dunia nyata yang ternyata hanya mimpi. Seperti demikianlah mengenai Tuhan. Manusia tidak mampu membedakan antara kenyataan yang sebenarnya dengan kenyataan yang hanya merupakan bayang-bayang. Jika dicoba untuk mengartikannya, Nietzsche menganggap Tuhan hanya proyeksi dari keterbatasan manusia yang merindukan sebuah kekuatan yang tidak terbatas.
3.1.Arti Kematian Tuhan
Tuhan sudah mati, demikian ungkapan Nietzsche yang terkenal. Dengan diberikannya konsep “mati” di dalam Tuhan, Nietzsche ingin mengatakan bahwa keberadaan Tuhan tergantung pada sintetis.[4] Tuhan menjadi argumen yang dapat dipertanggungjawabkan hanya terkait dengan waktu, menjadi, sejarah, dan manusia. Oleh sebab itulah, Nietzsche memberikan konsep kematian di dalam argumennya tentang Tuhan.
Dengan kematian Tuhan, Nietzsche kemudian mengajukan konsep kelahiran Tuhan baru. Jika Tuhan mati, manusialah yang menjadi Tuhan. Yesus adalah kurban yang harus mati di kayu salib. Kematian yang kemudian disamarkan menjadi sebuah kepercayaan saleh akan cinta Tuhan. Tuhan mengorbankan Yesus demi terbebas dari diriNya sendiri dan orang Yahudi. Tuhan perlu membunuh putraNya untuk terbebas dari diriNya sendiri dan lahir kembali menjadi Tuhan baru yang universal. Demikianlah arti kematian Tuhan yang pertama.[5]
Yang kedua, kesadaran Yahudi  menginginkan Tuhan yang lebih universal. Dengan matinya Tuhan di kayu salib, Tuhan tidak tampak lagi keyahudiannya. Yahudi lebih memilih menciptakan Tuhan yang penuh kasih dan rela menderita karena kebencian. Dengan nilai kasih yang lebih universal, Tuhan Yahudi telah menjadi Tuhan universal. Tuhan yang lama mati dan Putera menciptakan Tuhan baru bagi kita yang penuh kasih.[6]
Arti ketiga dari kematian Tuhan berkaitan dengan agama Kristiani. Nietzsche mengartikan lain teologi St. Paulus. Teologi Paulus yang banyak dijadikan dasar ajaran kristiani adalah pemalsuan besar-besaran. Dikatakan demikian karena Kematian Putera adalah untuk membayar hutang Tuhan. Nietzsche melihat terlalu besar hutangNya. Tetapi kemudian, Tuhan mengorbankan PuteraNya bukan lagi untuk membebaskan diriNya melainkan demi manusia. Tuhan mengirimkan PuteraNya untuk mati karena cinta, kita menanggapinya dengan perasaan bersalah, bersalah atas kematian tersebut dan menebusnya dengan menyalahkan diri sendiri. [7] Demikianlah kemudian Nietzsche menyebut kita semua sebagai pembunuh Tuhan dengan semua kedosaan kita.
Inilah moralitas budak yang dikritik Nietzsche. Budak bertindak bukan atas dasar dirinya sendiri melainkan ketakutan akan tuannya.[8] Tindakannya selalu didasarkan pada perintah tuannya. Bertindak sendiri akan menyangkal kodratnya dan dianggap sebagai kesalahan.[9] Berbeda dengan moralitas budak, moralitas tuan merupakan sikap yang sebaliknya. Moralitas tuan tidak mewujudkan apa yang seharusnya dilakukan tetapi apa yang senyatanya dilakukan.[10] Moralitas tuan menghargai dirinya sendiri. Mereka selalu yakin, perbuatannya baik.[11]
3.2.Ubermensch dan Moralitas Tuan-Budak
Dengan tidak adanya kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Nietzsche menginginkan kita hidup bukan sebagai budak yang takut akan tuannya melainkan menjadi tuan itu sendiri. Untuk kesempurnannya, Nietzsche memakai istilah Ubermensch. Ubermensch di sini tidak dimaksudkan sama dengan superman yang berkonotasi stagnan melainkan memakai istilah overman, yang berkelanjutan dan di dalam proses menjadi. Ubermensch adalah istilah yang terdapat di dalam buku Also Sprach Zarathustra. Di dalam Bahasa Indonesia, mengikuti istilah yang dipakai oleh Budi Hardiman, Ubermensch diartikan dengan kata “manusia atas”.[12]
Manusia atas adalah manusia yang unggul yang lebih dari manusia lainnnya. Bagi Nietzsche, kebudayaan yang baik adalah kebudayaan yang membuat manusia-manusianya maju dan menjadi unggul. Sedangkan kebudayaan yang menganjurkan sikap durschnittlich (tengah-tangah/rata-rata) hanya akan menghilangkan bakat-bakat individu dan menjadikannya kawanan.[13] Manusia atas adalah suatu proses terus menerus dan belum pernah ada yang bisa mencapainya.
Kawanan ini adalah kerumunan massa. Mereka adalah sarana untuk mencapai tujuan bukan tujuan itu sendiri. Manusia adalah sarana untuk mencapai manusia atas[14]. Perubahan kepada manusia atas harus didahului oleh sikap manusia yang kritis dan mengadakan transvaluasi, penjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada sampai akhirnya manusia itu mampu menentukan nilai-nilainya sendiri.[15] Manusia atas selalu mengakui dirinya sendiri sebagai der Wille-zur-Macht dan tidak menutupinya dengan kedok.[16]
3.3.Kehendak Berkuasa
Manusia atas selalu berhubungan dengan suatu tujuan-tujuan; kehendak untuk berkuasa (Will to power).[17] Kehendak berkuasa adalah hakekat segala sesuatu, termasuk di dalam pengetahuan. Bukan saja manusia atas, melainkan juga semua manusia. Akan tetapi tujuan manusia atas tidak pernah mengacu pada hal lain selain dirinya sendiri. Kehendak berkuasa harus secara tegas melampaui manusia. Pemikiran ini adalah cara bagi Nietzsche untuk menyingkirkan moralitas dan menggantinya dengan konsep Ubermensch di mana manusia atas selalu bertindak murni dari dirinya sendiri.[18]
Sekilas tampak bahwa manusia atas adalah manusia egois yang mengabaikan manusia lain. Tetapi Nietzsche tidak sependapat. Menurut Nietzsche, manusia atas tidak pernah mendominasi yang lain atau mengorbankan yang lain secara biologis maupun politis.[19] Nietzsche menyebut hasrat kekuasaan yang salah sebagai “setan kekuasaan” atau “ hasrat fanatis akan kekuasaan.”[20]
Pengertian yang ditekankan Nietzsche dari kehendak berkuasa adalah lebih merupakan suatu kualitas kehendak. Hal itu adalah suatu kedalaman eksistensial demi mentransendenkan diri sendiri. Manusia harus berusaha habis-habisan mencapai tujuannya.[21] Dan itu tidak menggunakan insting tetapi dengan penguasaan diri yang penuh.[22]

  1. Kritik terhadap Nietzsche
Filsafat Nietzsche tidak lepas dari keadaan zamannya. Kebencian Nietszsche akan agama muncul  setelah melihat kenyataan bahwa agama waktu itu hanya sebagai pelarian kita dari masalah yang ada di dunia nyata. Bisa dilihat di sini bahwa Nietzsche mengabaikan aspek yang lain dan tidak seimbang di dalam memahami agama yang benar. Sepertinya, kebencian telah terlalu banyak berpengaruh pada teorinya.
Tuhan yang “dibunuh” Nietzsche lebih mirip Tuhan psikologi. Dia sama sekali tidak menyentuh eksistensi Tuhan. Dia hanya melihat Tuhan dari konsep manusia tanpa mampu menerobos batas transendensi Tuhan. Hal ini dapat dimengerti karena Nietzsche telah melanggar batas disiplin ilmunya. Dia tidak membedakan antara Tuhan psikologis dengan Tuhan yang filosofis.
Ubermensch yang diungkapkan oleh Nietzsche tampak sebagai sesuatu yang utopis belaka karena dia sendiri mengakui belum ada manusia yang bisa dianggap sebagai Ubermensch. Dia juga terlalu radikal dengan menyebut Ubermensch bisa ada jika manusia terlebih dulu mengadakan transvaluasi atas nilai-nilai yang ada untuk bisa mendapatkan nilainya sendiri. Dia mengabaikan aspek manusia di dalam relasinya dengan sesama. Nilai yang secara pribadi dihidupi justru bisa menjadi bencana bagi umat manusia karena tak ada sebuah peraturan yang dijalankan sebagai suatu kesepakatan. Lagipula menurut Nietzsche sifat dari kebenaran adalah jamak.
  1. 5.      Relevansi dan Penutup
Ateisme, telah kita ketahui bersama, telah mulai menjalari masyarakat hampir di semua tempat. Ateisme di sini tentu saja bukan saja ateisme secara definitif melainkan juga ateis praktis. Semakin banyak orang tak lagi “wedi-asih” kepada Tuhan. Hal ini bisa dilihat lewat kenyataan sekarang ini bahwa masyarakat mengalami degradasi moral. Pembunuhan, peperangan, aborsi, korupsi, dan kesenjangan sosial kaya-miskin menjadi tema-tema utama pemberitaan media massa.
Agama akan menjadi sasaran empuk bagi kaum anti-agama. Di masa itu, persaingan bukan lagi antar agama sendiri tetapi jauh lebih berat ketika berhadapan dengan para kritikus agama tersebut. Di wilayah yang pengaruh agamanya masih kuat seperti di Indonesia ini, kita masih bisa nyaman dengan kehidupan beragama kita. Tetapi tidak demikian jika kita berada di Eropa. Kita harus senantiasa memperbarui kualitas iman kita terutama karena kita adalah calon imam. Selain itu kita juga harus tetap terbuka terhadap kritik demi membangun iman yang lebih mendalam.
Hidup di negara dengan agama masih mendapat tempat utama seperti di Indonesia ini, seakan-akan meninabobokan kita. Kita menjadi tidak sadar bahaya yang mengintai kita. Ketaatan yang saleh terhadap agama bisa menjadi kedok bagi kurangnya sikap kritis akan iman. Tentu saja akan menjadi bumerang bagi kita. Salah satunya adalah adanya gerakan terorisme yang didasarkan pada kepercayaan fanatis mudah dijadikan alat untuk kepentingan tertentu.
Untuk kita, pemahaman yang salah akan iman kristiani menjadi sasaran kritik Nietzsche. Bukan tidak mungkin, jika kita, orang Kristen terus ditidurkan oleh setiap aturan, dogma maupun doktrin Gereja tanpa sikap kritis, akan ada Nietzsche lain yang lebih mengerikan yang akan mengritik kita. Kita harus menjadi orang beragama yang kritis yang tidak mudah digoyahkan oleh tantangan dari luar.
Lebih dari sekedar orang Kristen, kita juga calon imam. Kita dipersiapkan menjadi pemimpin Gereja di masa mendatang. Kebijakan-kebijakan dibuat sedemikian rupa untuk membentuk kita sebagai manusia yang utuh dan unggul secara rohani. Tetapi kita juga harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita melakukan setiap program yang ada di seminari sebagai seorang ubermensch atau moralitas budak yang serba takut yang hidup di dalam diri kita.
Ubermensch yang dikatakan Nietzsche adalah manusia atas yang senantiasa berjuang demi suatu nilai yang terintegrasi di dalam dirinya. Pengertian ini bukan berarti kita harus menentang setiap aturan yang ada, tetapi bagaimana kita bisa menghidupi nilai-nilai yang ada di Seminari ini. Hal itu tidaklah mudah, jangan sampai kita justru terjebak pada sikap munafik. Ubermensch selalu berusaha habis-habisan untuk mengembangkan dirinya bukan hanya demi memuaskan formator tetapi demi tujuan yang lebih besar yang kita perjuangkan.
            Sebagai seorang calon imam yang sedang di dalam proses formatio, kita harus menimba ilmu dan mengolah diri secara serius. Hal ini bukan saja untuk diri kita sendiri melainkan juga untuk umat. Jika tidak demikian, kita hanya akan menjadi batu sandungan bagi umat nantinya. Kritik Nietzsche bisa menjadi masukan bagi kita dan iman kita. makalah ini akan ditutup dengan sebuah ungkapan dari Nietzsche. “membuat orang gelisah, itulah tugas saya.”[23]




Daftar Pustaka

Sunardi, St.,
1996, Nietzsche, LKiS Yogyakarta, Yogyakarta.
Deleuze, Gilles,
2002, Filsafat Nietzsche, Ikon Teralitera, Yogyakarta.
Budi Hardiman, F.,
2007, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia, Jakarta.
Neusch, Marcel,
“Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 2004, 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Panta Rhei Books, Yogyakarta.
Sautet, Marc,
2001, Nietzsche untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta.
Akhmad Santosa,
2009, Nietzsche Sudah Mati, Kanisius, Yogyakarta.
A. Mangunhardjana,
1997, Isme-isme dalam Etika dari A sampai Z, Kanisius, yogyakarta,

[1]  A. Mangunhardjana, Isme-isme dalam Etika dari A sampai Z, Kanisius, yogyakarta, 1997, 162.
[2] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia, Jakarta, 2007, 260.
[3]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Panta Rhei Books, Yogyakarta, 2004,  145. Mengutip dari  Friedrich Nietzsche, The Gay Science, translated by W. Kauffman (New York: Random House Vintage Books, 1974), no. 132, hal. 186.
[4]  Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2002, 214.
[5]  Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, 215.
[6]  Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, 216.
[7]  Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, 216.
[8]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[9]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[10]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[11]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[12]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[13]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[14]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[15]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[16]  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, 275.
[17]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Panta Rhei Books, Yogyakarta, 2004,  156.
[18]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Panta Rhei Books, Yogyakarta, 2004,  156.
[19]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, 157.
[20]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, 157.
[21]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, 157.
[22]  Marcel Neusch , “Friedrich Netzsche (1844-1900); Lawan Tangguh Kristiani” dalam  Damanhuri Fattah (ed.) 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, 158.
[23]  St. Sunardi, Nietzsche, LKiS Yogyakarta, Yogyakarta,1996, 21.