Kamis, 18 Juni 2015

Fiksi Rumah Susun Mungkin kau pernah mendengarnya

14 February 2012, 7:00pm 


Aku penghuni rumah susun lantai enam. Mia, gadis yang tinggal persisi di sebelah dinding kamarku, mungkin dia tidak hanya mendengar petikan gitarku, atau semua cerita-ceritaku. Juga semua nafsuku dan Renta dan kata-kata hati kami. Mia benar-benar seorang gadis. Hobinya mengalunkan cello dengan melodi klasik yang sebelumnya tidak pernah menggema di lorong rumah susun ini. (Kontras sekali, ada alunan melodi klasik cello di rumah susun kumuh ini. Musik yang bernilai seni tinggi mewarnai anak-anak rumah susun bermain angklok, mengibas-ngibas jemuran yang digantung di teras dan jendela rumah susun tanpa etika.) Pakaiannya bagus-bagus, kulitnya putih terawat. Mana ada lelaki biasa yang tak ingin mengelusnya. Tapi Mia bukan gadis biasa. Dia membawa angin berbeda ke dalam rumah susun ini. Bukan cinta. Bukan juga rindu. Bukan juga keluguan yang nampak sekilas ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Entah apa. Yang jelas, semenjak kehadiran dirinya, kehidupan di rumah susun ini tidak akan pernah menjadi seperti semula. Dan dia juga bukan Renta –wanita yang hidup serumah denganku selama tiga tahun terakhir. Bukan, dia bukan pacarku, apalagi istri. Aku dan Renta terikat oleh rasa, bukan oleh cincin pernikahan atau janji-janji gombal ABG yang baru mengenal pacaran. Renta sudah ada di sisi dinding yang satu lagi jauh sebelum ada nama Mia. Mungkin Mia telah mengerti apa yang kutulis. Mungkin dia juga telah memberikan inspirasi. Tapi dia tetap bukan Renta. Renta yang ketika ada memberi sakit kepala, tapi ketika menghilang memberikan kekosongan di lorong rumah susun dan di dalam dinding antara kamarku dengan kamar Mia.
ӁӁӁ
Aku seorang lelaki tua di lantai tujuh rumah susun. Aku duduk di atas tikar, tikar yang sama yang telah kududuki selama lima tahun. Di sini, di depan kamar rumah susunku. Bukan, bukan kamarku. Kalau aku mengakui bahwa kamar ini adalah kamarku berarti aku kalah, dan mereka menang. Mereka membakar rumahku lima tahun yang lalu, mereka mengambil tanah kami untuk membangun rumah susun ini. Mereka tidak memberi ganti rugi, mereka hanya memberiku sebuah kamar di lantai tujuh, yang tidak akan pernah bisa menggantikan rumahku yang lama. Bukan karena rumahku yang dulu adalah rumah yang besar, tapi aku membangunnya dengan tanganku sendiri. Adikaryaku, satu-satunya adikarya yang pernah aku punya. Pernikahanku jelas sekali bukan sebuah adikarya, istriku bodoh, aku bodoh. Kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi. Kami tidak pernah bersekolah, mungkin karena itu. Ketiga anakku juga bukan adikarya. Anak laki-lakiku yang paling besar kini menghilang. Dia menikam orang sampai mati ketika berumur empat belas tahun, dan dipenjara. Aku tidak tahu apa dia sudah dibebaskan atau belum. Anakku yang kedua, tinggal di rumah, selalu di rumah, tidak pernah pergi ke luar atau melakukan apa-apa. Dia tidak bekerja, tidak sekolah. Tidak ada satupun anakku yang pernah sekolah, mungkin karena itu. Anakku yang ketiga, perempuan. Mungkin dia yang bisa dikata mendekati sebuah adikarya. Senyumnya manis, kulitnya bersih, sekalipun tidak pernah melakukan perawatan muka. Perawatan muka apa, keluargaku makan saja sulit. Sebentar lagi anak perempuanku akan pulang. Dia telah menemukan jodohnya, seorang tukang ojek yang juga mempunyai sebuah gerobak untuk menjual gorengan. Anakku akan jadi orang, hidupnya akan lebih baik. Hari ini, pacarnya dan keluarganya akan datang untuk meminang. Istriku dari pagi berusaha untuk membuatku masuk. “Masuk dulu napa sih?! Ini buat anak elu. Nanti kalo keluarga pacarnya udah pulang, elu boleh duduk di situ lagi !” (Teriak istriku sambil berkacak pinggang di pintu rumah, dan setelah mendapati aku tetap berdiam keras kepala, dia masuk lagi.) “Atau pergi kemana dulu gih, ntar kalo mereka udah pulang, baru balik lagi.” (Kata anak laki-lakiku yang kedua dari dalam rumah sambil membaca koran.) Mereka tidak akan pernah mengerti. Tidak ada orang yang bisa mengerti. Kecuali anak perempuanku. Cuma dia yang memahami aku. Aku yakin dia tidak akan menyuruhku masuk. Aku yakin dia tidak akan malu. Sekarang jam 13.50, anak perempuanku akan pulang jam 14.00. Waktunya semakin dekat, sebentar lagi anak perempuanku akan datang. Aku tidak sabar untuk melihatnya. Dia tadi pergi ke salon, kunjungannya yang pertama. (Anak perempuanku muncul di sisi ujung lorong gelap rumah susun lantai tujuh.) Itu dia, ah dia caantik sekali. Jauh lebih cantik dari biasanya. Dia memang adikaryaku, yang paling memahami aku. Aku yakin dia tidak akan keberatan aku terus duduk di tikar ini. “Pak masih di sini aja? Mau bikin aku malu? Mau bikin calon mertuaku kabur?” (Kata anak perempuanku.) “Tu orang tua bisa dipaksa masuk nggak sih??” (Katanya lagi bernada jengkel sambil masuk rumah.)
Aku yakin dia begitu karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya. Aku tidak boleh egois. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Kalau aku masuk berarti aku kalah. Dan mereka menang. Apa yang harus aku lakukan? Apa? Badanku terasa lemah, aku tak sanggup lagi berjalan jauh. (Aku berjalan pelan menuju ujung terang lorong rumah susun lantai tujuh. Dari ujung lorong yang hanya dibatasi oleh pagar setinggi pinggang ini terlihat jelas pemandangan kota. Tidak seperti ujung lorong yang satunya –yang hanya berhenti di tembok tebal dengan tangga turun atau naik di sisi kanannya.) Kalau aku masih di sekitar sini, mereka akan melihatku. Dan anak perempuanku akan malu. Apa yang harus aku lakukan? Apa? Pembatas ini tidak terlalu tinggi, mungkin aku bisa memanjatnya. Badanku kini sangat ringan. Hap, kini aku sudah ada di atasnya. Satu ... Dua ... Tiga ... (sebelum aku mati, aku jatuh cinta pada alunan musik klasik dari molek tubuh cello yang terdengar asing namun indah itu) Segalanya terasa berhenti dalam gerakan lambat, Aku melayang, Mungkin karena badanku terlalu ringan. Apakah aku kalah? Apakah aku menang? Yang aku tahu tidak ada seorang pun yang akan kehilangan diriku. Yang aku tahu tidak akan ada yang sekedar mendongeng tentang apa yang pernah terjadi di rumah susun ini.

SEPOTONG IMAN TAK BERNISAN, JALAN JALANG KETUHANAN & DEKONSTRUKSI SANTRI BRAI

7 February 2012, 10:42pm 


Sumendhea sedhela coba padha waspadakna ana waspa angriris bantala binarung jerit kang sora ludira memaya tlaga kaya-kaya nyawa wus koncatan rega ing tlatah kulon pulo Jawa Darunane? ana manungsa kang jarene sarwa seta panganggone rumasa suci dhewe rumasa bener dhewe rumasa lanang dhewe nggawa penthung lan bendho gedhe nggelar sesawangan sate bangke
Nyai, apakah kau pernah mengatakan ‘ya’ untuk kesenangan? Kemudian kau juga menjawab ‘ya’ untuk semua sakit, semua hal-hal terkait, terjalin, jatuh cinta dengan satu sama lain.
Kita hidup di sepotong zaman dimana agama tak lagi menjadi perkara rasa, nyai. Tak sebagaimana mestinya, kini beragama hanyalah masalah menyesuaikan diri dengan selera mereka yang berkuasa.
Aku mendengar kabar, bahwa guru dan sahabat kita—yang kita tahu sangat teguh dalam memegang prinsip tak (boleh) ada p(em)aksaan dalam (ber)agama itu—telah mati. Kepalanya dipenggal. Dan, sesaat seusai dikubur, jasadnya berubah menjadi seonggok bangkai anjing kudisan. Lalu, mereka yang berkuasa itu, menggantungnya di perempatan jalan dengan menyertakan sebaris tulisan pada sepotong papan: “Inilah akibat orang yang sesat dan menyesatkan.”
Tetapi, nyai, apa sebenarnya hak kita memvonis sebuah keyakinan sebagai sesat dan menyesatkan? Aku kira dalam hal ini tak seorang pun memiliki hak itu. Sebab, keyakinan—sekali lagi—adalah urusan rasa. Dan setahuku, rasa itu sesuatu yang tak mudah dijelaskan, bersifat sangat pribadi: dalam segala hal adalah aku, milikku, dan urusanku. Dengan demikian, bukankah menjadi lucu sekaligus dungu apabila kita menghakimi sesuatu yang tak gampang dijelaskan?
Itulah tepatnya, nyai, prinsip yang diperjuangkan oleh mendiang guru dan sahabat kita—yang sejatinya hanyalah ungkapan lain dari pesan agama itu sendiri: tak (boleh) ada p(em)aksaan dalam (ber)agama.
Logika semacam ini tentu saja tak mungkin bersarang dalam nalar mereka yang berkuasa, nyai. Bagi mereka, persoalannya sederhana saja: “Rasa itu gila. Dapat menggiring pada sesuatu yang merdeka dan beda—dapat merongrong kuasa. Karena itu, ia berbahaya. Sekarang tinggal pilih: tunduk atau tersisih.”
Pilihan pertama, jika ingin selamat, berarti kita harus menyeragamkan diri dengan mereka, dengan mengorbankan keotentikan iman kita. Dan ini artinya, menjadi orang munafik. Adapun pilihan kedua, jika tetap ingin berbeda, kita mesti menyisih dari dunia yang tengah dikuasai mereka, sekali dan untuk selamanya.
Dan aku pun telah memilih, nyai. Aku akan menyisih, dengan menyerahkan raga ini kepada mereka secara cuma-cuma. Terserah pada akhirnya mereka mau menyembelih atau merajamnya, aku tak peduli. Setidaknya, aku tetap menjadi diriku sendiri: dalam segala hal adalah aku, milikku, dan urusanku.
Suamimu yang jalang,
Mati itu sebuah keniscayaan, bagian dari kehendak dan kuasa tuhan, begitulah kata orang kebanyakan, namun aku bukan orang kebanyakan. Aku orang kerasukan yang hidup dengan gagasan sungsang: apabila benar bahwa kematian itu bagian dari kuasa tuhan, maka bunuh diri adalah laku penyangkalan dan pembangkangan terhadap tuhan. Dengan menghendaki kematianku sendiri maka aku pun telah menyangkal kemaha-kuasaan tuhan, dengan membunuh diriku sendiri maka aku pun telah membunuh tuhan.
Oleh karena hidup itu absurd, maka persoalan mendasar filsafat adalah apakah pada akhirnya hidup itu menjadi layak untuk ditolak dengan jalan bunuh diri, begitulah engkau mengawali telaah eksistensialmu yang muram itu, dan secara teoritis engkau lebih memilih untuk menghadapi, bukan dengan jalan berserah diri kepada tuhan yang suci, perigi segala nilai dan arti, tetapi dengan jalan pemberontakan dalam diam, persis sisyphus, si makhluk terkutuk yang justru berbangga diri. Dan apapun pilihan sikapmu atas absurditas itu, engkau tetap mati dengan cara yang nyeri, (bunuh diri?) sebab sisyphus, pada akhirnya juga, hanyalah sepotong mimpi, yang tetap rentan terhadap nyeri kehidupan.
Hidup sebagai sosok tertolak dengan segugus gagasan yang retak, tulisan yang tak utuh dan tubuh yang rapuh tak membuat nyalimu kecut ‘tuk menjadi seorang estetikus marxis, tetapi pada malam yang sunyi itu, engkau mulai muak dengan semua mimpi yang tak terbeli, engkau pun bunuh diri, dengan melahap habis morfin yang selama ini menjadikanmu percaya diri.
Pagi hari, 4 november 1995, aku seorang Nietzschean yang begitu menghargai kehidupan dikabarkan membuat sebuah pertunjukan filosofis yang mencengangkan, atau dalam istilah teknisnya sendiri: ‘peristiwa’. Di lantai tiga apartemenku, perlahan aku membuka jendela, bukan untuk menyambut sang surya, tetapi untuk melemparkan tubuhku sendiri, bunuh diri. Rekan sezamanku pun banyak yang tak mengerti, mereka seperti disuguhi sebuah kontradiksi, semacam pengkhianatan atas semangat Nietzschean, benarkah demikian? Nietzsche pernah menyeru, bahwa berfilsafat adalah melempar dadu, pada aras inilah kematian sang skizoanalis dapat dimaknai, bahwa aku sedang melempar dadu, dimana dadunya adalah tubuhku sendiri.
Bli, tubuhmu boleh pergi, tetapi tidak untuk jiwamu yang akan terus bernyanyi dan menari, selama langit meludahi bumi, nabi-nabi membungkam nurani, baladamu ‘kan jadi api. Tak ada surga juga tak apa, kau sudah terbiasa dengan segala siksa dan derita.

Resolusi

28 December 2011, 2:58pm 

Kau laut serasa lada hitam. Kepada mereka yang katanya dekat dengan tuhan tuhan yang berpayung di pagi yang cerah Ada 15 tembakan ! jangan turun kecuali bila kau lihat langit sewarna kulit mentimun Dirimu yang datang tanpa api, tiba-tiba menjelma karung goni, penuh sesak pasir dan batu kali. Mungkin kau tahu, buah randu selalu pecah bersama kemarau yang hampir lelah hingga seratnya beterbangan, sakan salju yang kau lihat di negeri sebrang. Selalu pulang lewat jam 1 dini hari : dirimu hutan seberang jalan yang menunggu seorang pencari kayu bakar datang, mendirikan tenda daun pisang keladi dan siap menginap menunggu pagi. Dia nyalakan obor saat basah minyak tak merambati sumbu. Nyatalah memang, siapapun enggan, menunggu engkau wahai hutan seberang jalan. "50 tahun tumpukan kompos di luar hutan. Siapa yang membuat laut kehilangan rasa lada, tapi tiba membawa pedas yang lainnya?" Suara tuhan dibungkus kantong es buah.

Tanpa Judul

4 October 2011, 3:58pm 

Di kepalaku ada setan !!! yang dengan tiba-tiba menggerakkan tangan membuatku meraih cat warna hitam lalu ke atas kanvas kutorehkan tapi mendadak terpaku terdiam kemudian muncul bayang-bayang seorang wanita alim yang suka mengumbar kelamin. Mengapa tidak menyalahkan orang yang sedang berkhianat dan berbuat laknat? Padahal sebelum piring keramik itu menghantam jidat, apa yang dia lakukan adalah tindakan bejat. karena, bagaimanapun dia mampu membuka ruang yang selama ini tertutup rapat, dan menghuninya sesaat, lalu dengan mudahnya dia minggat!
Malam bosan dengan warna hitam. Luruh seperti hati yang runtuh, berputar dalam lingkaran penyesalan yang jenuh. Yang sudah mati dengan segera bisa lahir kembali, untuk mati lagi. Seharusnya ada musik sendu mendayu sebagai latar adegan semacam itu. Seharusnya ada isak tertahan yang akan berubah menjadi desah kebahagiaan saat datang pangeran yang ditunggu.
Ada cerita panjang tentang seseorang manusia yang kalah oleh usia, kala jutaan jarum hujan menelisik kain petang. Semenjak seorang laki-laki menyandang gelar anumerta dalam urusan ranjang, dia selalu gugur dalam berperang. Namun dia masih percaya diri karena tahu persis dirinya berperisai duri. Tato bergambar peri yang membawa hatinya pergi.
Aku tidak pernah tertarik pada kulkas. Dingin. Aku mencintai kehangatan. Menanti benar tibanya mentari di ujung samudra, dan sinarnya membentuk garis emas yang terbujur memanjang hingga pucuk pantai. Pantai adalah perhentianku sebelum kilometer 666. Di sana ada kebebasan yang sempurna. Kadang sunyi seperti Hari Raya Nyepi. Kadang ramai seperti adegan ranjang yang melibatkan borgol, topeng kulit dan cemeti. “Pandanglah aku wahai mata yang bernafsu, peluklah aku hingga setitik api dari dalam tubuhku membakarmu.” Ada bulan di sebelah kanan dan matahari di sebelah kiri matanya. Ada pelangi berbagai macam warna di hidungnya. Namun yang paling membuat aku takjub adalah kupu-kupu yang selalu mengepakan sayap di bibirnya ketika dia bicara. Dari setiap kepak sayapnya, dia berubah warna. Sungguh ajaib, kupu-kupu di bibirnya tidak hanya berubah warna saja tapi juga bisa mendadak berubah wujud tergantung banyak bir yang kuteguk. Aku melihat kupu-kupu seolah moncong meriam, mulai menembakkan rentetan bom yang bakal memecahkan selangkangan. Sayap kupu-kupu mengepak di bibirnya, bulan di mata kiri dan matahari di mata kanannya sama-sama terbenam ketika matanya perlahan tertutup, saat warna-warni pelangi di hidungnya semakin mendekat di atas bibirku yang kelu namun tak terkatup. Kami saling memagut. Di tangan ini gitar tidak hanya berbunyi dan bernada, tapi juga bicara. Dan ketika jemariku memetik kedua puting payudaranya sambil bersenandung, dia melambung. Bibir bergidik, dingin membiru dikerumuni anak-anak salju, sesaat setelah aku memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Dibalasnya kecupan itu seperti sedang menyeruput secangkir cokelat dan susu hangat. Terus bersama, terus berpelukan di dalam selimut menikmati sinar matahari yang menyeruak masuk dari sela-sela jendela dan jatuh di atas bibirnya. Untuk mengulang segala gerakan yang akan membuat bibir itu mengeluarkan desahan dan bergetar. Untuk sama-sama melenguh dan menggelepar. Tapi tidak bisa. Uangku hanya cukup untuk bersamanya 3 jam saja.
Dunia yang kukenal adalah Ibu tinggal di rumah ketika Bapak pergi bekerja. Dunia yang kukenal adalah doa sebelum makan dan menjelang tidur. Dunia yang kukenal adalah belajar di sekolah dan mengerjakan PR di rumah. Dunia yang kukenal adalah nasihat, “Raihlah cita-cita setinggi-tingginya. Carilah pasangan yang baik budi pekertinya. Hindari seks sebelum menikah, rokok, minuman keras dan narkoba.” Dunia yang semakin jauh dan menjauh sejak aku memandang kepak sayap kupu-kupu di bibirnya.
Hidup, Barang kali memang seperti segelas bir dan kunang-kunang, Sebelum sesap buih terakhir dan semua menjadi kenangan. Kita memang bisa memesan bir tapi tidak bisa memesan takdir.
Pada saatnya nanti ketika aku tahu bahwa akhirnya perempuan yang aku cintai itu benar-benar menikah tidak denganku, pada saat itulah aku akan menyadari bahwa aku tak menang dan akan memilih menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah aku berharap, dia tergeragap bangun memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di puting susunya.

Mbah Kung vs Pak Dhe

21 Mei 2011, 12:17am


Pak Dhe-ku yang seorang tentara Angkatan Laut melangkah pergi menjauh dari rumah, sambil membawa tas ransel hijau tentaranya yang disampirkan sekenanya di sisi kiri pundaknya dan memegang perutnya. Sesekali Pak Dhe melihat ke belakang, pandangan matanya tajam melihat Mbah Kung-ku yang malangkerik di depan rumah, dengan wajah congkak yang seakan bilang ‘Nek wani mrenea maneh. Nek durung kapok tak ladeni tarung karo aku maneh kene.’ Ketika pandangan sengit keduanya bertemu, kilat seakan menyambar membelah langit sore itu. Nanti akan kuceritakan soal perseteruan antara Mbah Kung-ku dengan Pak Dhe-ku.
Mas Widada adalah kakak keponakanku. Ketika aku SD, dia sudah SMA. Suatu hari ada kenduri di rumah, Ibu memintanya menyembelih ayam. Sebenarnya Mas Widada tak berani tapi dia terpaksa mengiyakan karena saat itu sedang tak ada laki laki dewasa di rumah selain Mas Widada. Saat menyembelih ayam, Mas Widada tak berani melihat ayam, pandanganya dibuang ke belakang sambil merem tapi tangannya memegang pisau yang sudah ditodongkan di leher si ayam dan tangan satunya memegangkepala ayam, sementara seseorang yang memegang sayap dan kaki ayam bertugas mengomando apakah mata pisau sudah tepat mengenai urat leher ayam. “Wis pa durung? Kurang py?”Tanya Mas Widada. “Gulune pitik kurang ngetan sithik.”Jawab teman yang memegangi ayam. “Py? Wis pas?” “Sithik maneh. Hop !” Al hasil ketika ayam disembelih, bukan hanya urat leher bagian depan yang putus, tetapi seluruh leher melingkar terkena pisau hampir putus jika tak ada tulang leher penyangga kepala. Tak ada yang menyangka, tak ada yang menyana, setelah lulus SMA Mas Widada jadi tentara, seorang prajurit tamtama yang sangar. Dia terlibat dalam operasi seroja, pemberantasan pejuang separatis Timor Leste. Saat itu tak ada seorang bintara bahkan perwira yang berani menggunakan sejata pelontar peluru karena siapa saja yang memakai senjata itu bakal menjadi incaran musuh karena kekuatan senjata yang luar biasa. Mas Widada naik ke gelanggang perang melilitkan jarikyang biasa dipakai Ibunya tidur ke seluruh tubuhnya, lalu dengan gagah berani mengambil senjata pelontar peluru, sembari membabi buta menembaki pejuang pemberontak, Mas Widada berteriak hebat. “Mbookeeeeee… !!!” Hingga perang usai, dia masih selamat.
Kenduri adalah adat rutin yang tak bisa ditinggalkan di lingkungan keluargaku. Ada yang selalu kuperhatikan saat kenduri selalu ada jenang sengkala dari beras ketan berwarna merah dan putih. Ibu bilang kalau itu untuk menolak bala karena namanya sengakala, sangkal ala. Namun sebuah teori oleh Prof. Dr. Zoetmolder, Guru besar filsafat dan bahasa kuna mengatakan bahwawarna putih berarti darah yang dikeluarkan laki laki (sprema), warna merah berarti darah yang dikeluarkan wanita (saat datang bulan), jadi intinyajenang sengkala yang terbuat dari beras ketan berwarna merah dan putih melambangkan penghormatan kepada kedua orang tua yang telah menyatukan benih hingga menjadi seorang manusia. Itulah sekilas soal kenduri di rumahku. Biasanya setelah makanan yang disuguhkan kepada tamu sudah habis, giliran makanan yang disantap keluarga besar dihadirkan. Menu utamanya adalah ingkung atau ayam panggang.Sewaktu kecil, aku dilarang keras makan bagian brutu, pantat ayam. Kata Mbah Kung-ku, marai gampang lali nek mangan brutu. Secara otomatis pula, tiap anggota keluargamendapat bagian bagian ayam sesuai dengan usia. Bagi anak anak kecil seperti aku saat itu, mendapat bagian kepala atau dada atau leher. Pamrihe, ben dadi pemimpin sing manggon neng dhuwur kaya manggone ndhas pitik lan amba rejekine kaya ambane dhadha pitik. Bagi orang dewasa seperti Mas Widada atau Ibu, mendapat bagian ceker dan swiwi, sayap. Kata Mbah Kung-ku kita harus meneladani filosofi ayam sing senengane nyeker nyeker golek pakan, orang orang muda harus giat bekerja mencari rejeki. Juga mendapat bagian sayap yang kata Mbah Kung-ku biar karirnya melambung tinggikaya pithik lan manuk sing isa iber lumantar swiwi. Dan generasi cap orang tua macam Mbah Kung-ku mendapat bagian pupu lan brutu.Wong tuwa ki wayahe pensiun, kaya pitik nek wis nyeker, asile disimpen neng pupu, bar kuwi terus ngendhog liwat brutu. Setelah dewasa aku baru sadar bahwa kami telah dibohongi mentah mentah oleh Mbah Kung. Semua tipu muslihat pembagian ingkung itu tak lebih dari bagian konspirasinya agar beliau mendapatkan bagian pupu lan brutu. Orang orang tua seperti Mbah Kung-ku sudah tak kuat lagi giginya jika digunakan untuk memecah tulang, itulah mengapa beliau sebisa mungkin mengarang filosofi versinya sendiri agar mendapatkan bagian paha dan pantat karena bagian itu tak mengandung banyak tulang keras. Sungguh cerdik akal akalan Mbah Kung-ku. Selain ingkung, masing masing generasi di keluarga besar kami memiliki makanan favorit sendiri yang selalu disertakan saat menyantap ingkung. Bukan rahasia lagi, sejak kecil aku suka krupuk, makanya di rumahku selalu tersedia krupuk di meja makan. Hingga sekarang aku tak bisa meninggalkan ritual sakral menyantap krupuk saat makan, apapun makanannya tetap harus pake krupuk. Suatu saat aku diajak makan salah satu teman di KFC Malioboro, aku bingung setengah mati karena tak ada krupuk di KFC, akhirnya aku keluar sebentar dari restoran, mencari krupuk di warung angkringan di seberang jalan lalu masuk lagi ke restoran. Semua menatapku aneh, termasuk turis asing yang saat itu sedang berada di dalam restoran. Lain lagi dengan Ibu dan Bu Lik, mereka lebih suka menyantap sayuran. Kalau Mbah Kung-ku tak bisa lepas dari yang namanya sambel, sampai sampai beliau menanam sendiri lombok di tegalan etan omah agar bisa nyambel sesuka selera. Mungkin karena terlalu sering merasakan pedas, hingga berpengaruh pada tutur katanya yang pedes di telinga orang yang mendengar. ‘Madhang ora gawe sambel, rasane kaya ngising ora cawik.’ Kata Mbah Kung-ku sambil nguleg sambelnya sendiri di dapur. Jumlah lomboknya pasti lebih dari 20 biji. Suatu hari ada kenduri di rumah, kebetulan Pak Dhe-ku datang berkunjung. Seperti biasanya, kami makan bersama, lesehan di ruang tengah setelah para tamu pulang. Awalnya semua tampak biasa saja, Pak Dhe-ku duduk berhadap hadapan dengan Mbah Kung-ku. Mbah Kung mengambil 5 lombok sekaligus saat makan, sesaat kemudian, seperti tanpa dosa, Pak Dhe juga mengambil lombok sejumlah 7. Mbah Kung kaget, merasa harga dirinya jatuh karena ada yang berani makan lombok melebihi dirinya. Ora trima, Mbah Kung mengambil 10 lombok sekaligus. Pak Dhe merasa tertantang, dia ganti mengambil 12 lombok. Mbah Kung ambil 15, pak Dhe ambil 16. Mbah Kung ambil 18, Pak Dhe ambil lagi 20.Seterusnya, mereka saling bersalip salipan makan lombok dengan jumlah yang fantastis. Aura pertarungan 2 master lombok itu pun terasa sangat kuat. Sesekali mereka berhenti, saling memandang dengan tatapan sengit.Menyeka keringat sambil huhah huhah, lalu melanjutkan lagi pertarungan lombok. Hingga semua hidangan habis, tak terhitung lagi berapa lombok yang dihabiskan keduanya. Tak ketahuan siapa pemenangnya, tak ada medali, taruhannya adalah harga diri. Keesokan harinya, keduanya bergantian antri ke jamban kamar mandi. Tiap 10 menit sekali, secara berselang seling mereka menguras isi perut yang terbakar oleh lombok semalam. Mereka mencret.
Begitulah cerita tentang pertarungan dan awal perseteruan antara Pak Dhe dan Mbah Kung.